Secangkir kopi dan fikiran-fikiran itu

Astagfirullah…ya..kalimat istigfar itu yang pertama gue ucapkan ketika sadar bahwa sudah segitu piciknya fikiran gue terhadap orang lain.

Kenapa sih, gue yang sendirinya masih sangat jauh dari kata baik ini, selalu saja punya perasaan nyinyir sama orang lain? Padahal, siapa yang tau kan timbangan dosanya mungkin lebih berat gue kemana-mana, dan bahkan mereka mendapat pahala ketika gue sibuk dan asyik dengan ke-suudzonan gue ke mereka.

Oke, disini gue hanya mau muhasabah diri, ya Allah jauhkanlah hamba dari rasa nyinyir, dari rasa so tau dan main menghakimi (walau pun hanya sebatas dalam hati sendiri) kepada orang lain yg gue dengan sotoynya fikir sedang melakukan kesalahan.

 

Secangkir kopi dan kesempurnaan

Disuatu pagi ketika gue sedang menikmati kopi pagi, seorang sahabat nge-WA dan nanya “tir, anak gue udah 3 bulan BB nya gak naik nih, makannya susah, duh hopeless deh gue”

Hmmm…it got me thinking….ternyata gak cuma gue yang khawatir sama pola makan anak dan degdegan tiap anak posyandu bb nya naik apa nggak. Ternyata yang lain juga sama aja, dan buat temen-temen gue yang nyangka pertumbuhan anak gue dan perjalanan motherhood gue baik-baik aja, mereka salah 😀

Just like any other mommies, gue juga sama laaaah, anak susah makan, kepikiran tumbuh kembang anak gue sesuai umurnya apa enggak, kenapa anak orang udah bisa bilang ini itu tapi anak gue belum, daaaaaan sejuta kecemasan lainnya sebagai seorang ibu baru.

Masalahnya sekarang adalah, di dunia yang penuh dengan hingar bingar media sosial ini, bermunculan sosok sosok ibu muda yang nampaknya sempurna banget hidupnya, anaknya sehat, dikasih makan sesuai panduan WHO anaknya mau mau aja lengkap dengan caption “yeayyy makan hari ini tandas gak bersisa”, anaknya udah bisa ini itu, dikasih mainan edukatif anaknya mau, bobo sesuai jadwal, bahkan dengan usia yang sama dengan anak gue ada yg udah bisa toilet training daaaan kesempurnaan lainnya. Apakah sosok sosok sempurna itu salah? TENTU TIDAK, karena mereka bisa seperti itupun pasti dengan segala perjuangannya, dan pasti merupakan suatu kebanggaan ketika buah hatinya bisa hebat seperti itu sehingga wajar jika mereka ingin menampilkannya di media sosial.

Nah yang jadi masalah adalah penerimaan kita, oke lebih spesifik penerimaan gue, yang liat. Gue kadang jadi ngerasa sedih dan khawatir, kok anak gue gak kaya gitu yah? Boro-boro mau makan buah dengan campuran ini itu, sejauh ini anak gue cuma mau makan buah pisang sama tomat aja dong mak.. hahahhaha udah drama aja ini hati sama otak muterrrrrr gimana caranya anak gue bisa kaya anak sosok sosok sempurna itu

Sampai gue baca sebuah artikel duh gue lupa linknya, judulnya kurang lebih motherhood is not a competition gitu lah, isinya sih kurang lebih ada beberapa point, bahwa :

  • its all okay its all normal, bahwa anak kita yang kadang kalo makan harus dibawa keliling komplek, yang makannya cuma mau menu itu itu aja, naik Berat badannya gak fantastis, selama anaknya happy happy aja, aktif aktif aja, semua normal, okay?
  • ingat, tumbuh kembang setiap anak itu beda-beda, yang kembar identik aja beda apalagi yang beda emak bapaknya, jadi jangan langsung pesimis ketika anak kita belum mampu melakukan sesuatu yang anak lain sudah bisa, nah ini gue yang suka rempong nih, contoh dulu anak gue udah 8 bulan belom ada giginya, disaat bayi seangkatannya udah tumbuh minimal 2 gigi, gue udah was was aja, tanya DSA nya gpp kok normal, tapi namanya neneknya yekaaaaan ada aja tiap hari bikin makin parno, eh ternyata bulan ke 11 dia tumbuh gigi langsung 4 dong dan tanpa panas dan tanpa rewel, tuh kaaaan semua akan indah pada waktunya kok 🙂
  • why judging so easily?kadang emang ini penyakit yang gak kerasa sih, tanpa sadar kita dengan mudahnya menghakimi ibu lain sebagai ibu yang teledor, ibu yang gak care, ibu yang cuek, ibu yang ga berfikir panjang, dan segudang penilaian sotoy lain yang di hasilkan dari hanya melihat selewat saja. Padahal kita sendiri mengalami kan susahnya ngurus bayi itu kaya gimana? janganlaaah hanya karena si ibu memberikan treat yang berbeda dari cara kita kepada anak lantas kita menjudge hal itu salah, toh cara kita juga belum tentu yang paling benar, mengurus anak itu gak bisa kaya matematika yang 1 + 1 = 2, ini sebenernya nasihat untuk diri gue sendiri sih yang masih suka judging dalam hati, ya Allah maafkan.

Kesimpulannya, tidak ada cara mengasuh paling benar, paling baik, paling sempurna di dunia ini, semua kembali pada kondisi kita masing-masing, yang pasti, kita sebagai ibu harus terbuka dengan ilmu ilmu baru, harus terus menambah ilmu dan mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi anak kita, sesuai dengan apa yang kita yakini, nikmatilah karena sejatinya ini bukan perlombaan ibu mana yang paling pintar.

Jadilah ibu yang bahagia, menikmati setiap kesempatan bersama anak-anak kita tercinta

Termotivasi untuk memberikan makanan sehat kepada anak harus tetap kita usahakan, tapi ingat, yang paling gemuk anaknya belum tentu yang paling sehat

Again and again it just a self reminder buat diri gue pribadi, syukur syukur kalau bisa jadi pencerahan buat ibu yang lain 🙂

Semangat semuanyaaaaaa :*

puncak15

motherhood isn’t easy, he?

Its been two wonderful years

Alhamdulillahirobbilalamin hari ini ceritanya tepat 2 tahun pernikahan, yhaaa…2 tahun aja gituuuuu gaiiissss, berasa cepet banget apalagi semenjak ada anak bayi, dari Senin ke Senin berikutnya aja udah gak berasa, lah ini juga tau tau udah 2 tahun aja.

Yaaa yaaa yaaaa saya sudah banyak dengar dari para senior bahwa 2 tahun pernikahan itu belum ada apa-apanya, ibarat ikutan marathon nah ini tuh mungkin baru peragengan otot otot kaki dan tangan..masiiiiih cetek banget.

Pernah marahan gak sama suami? Belom. Entah ini sehat atau enggak yah untuk sebuah hubungan antara dua orang manusia. Jadi gini, kalo kesel sih seriiiiing, baik gue ke suami maupun sebaliknya, kaya suami yang konsisten dengan gayanya dalam mengambil baju dari lemari yang bikin gue kezelll karena bekasnya pasti berantakan, dan hal hal cemen lainnya, atau suami yang suka kesel karena kebiasaan gue yg kalo minum sambil berdiri padahal dia udah ingetin berkali-kali kl minum harus duduk, atau ketika kita sama-sama cape tapi anak bayi masih ON dan terjadilah ” ayo dek tuh ayah ngajak main” eh sama suami ” tuh dek ibu lagi apa tuh” kemudian kita sama sama kesel hahahahhaah. Nah sejauh ini hal hal itu aja sih, gak pernah marahan sampe ga ngomong-ngomong apalagi sampe berhari-hari, ya Alhamdulillah kan yaaaah?

Gue adalah orang yang anti konflik, paling males berseteru, jadi kalo pun ada kekesalan yg masih bisa ditahan yaudah gue telen aja dari pada harus dibahas yang berpotensi menyebabkan pertengkaran, toh keselnya juga sama hal hal sepele aja sih bukan hal-hal fundamental. Nah suami juga rasa-rasanya sama sih dia gak akan mau masalahin hal hal sepele, jadi yaudah… selama 2 tahun ini ya normal-normal aja happy happy aja, apalagi kalo lihat perkembangan anak yang makin hari makin lucu dan juga menyita energi kami 😀

Oke terlepas dari hal-hal diatas yang entah baik atau enggak, gue yakin sih setiap pasangan suami istri itu punya gaya tersendiri dalam menjalani rumah tangga mereka, jadi mari kita nikmati saja perjalanan panjang yang baru setapak dua tapak dilalui ini

Harapan gue sih semoga gue dan suami bisa lebih saling mengingatkan dalam hal-hal yang baik terutama ibadah, karena apa?karena yagitulah sebagai pasangan muda kadang kita masih ada absen absennya soal ibadah, hehehhehe pengen lebih baik aja di tahun ini, amiiiin ya Allah 🙂

Terakhir, semoga kami bisa jadi orang tua yang baik yang bisa mengajarkan dan mencontohkan kebaikan untuk anak kami. Amiiiin

Selamat 2 tahun pernikahan, sayang. Terima kasih sudah menjadi partner yang menyenangkan, the adventure will never be easy but as long as u got my back then everything is alright 😉

Image may contain: 4 people, people smiling, closeup

Secangkir kopi dan seorang bapak

Pada tahun 90an hiduplah seorang bapak, ibu, dan anak perempuan pertama mereka, yaitu aku. Kami tinggal di sebuah desa kecil yang pada jaman orde baru disebutnya Desa IDT atau Inpres Desa Tertinggal, yak betul “desa tertinggal” karena seingatku kami baru bisa menikmati listrik dari PLN pada tahun 1997 ketika aku berusia 7 tahun. Baru bisa menikmati telepon dari Telkom pada tahun 2002. Yhaaa betul 2002 disaat orang di kota sudah menggunakan handphone, kami baru bisa menikmati rasanya ada dering telepon dirumah. Jarak ke pusat kota sekita 70 km dengan jalan yang sampai sekarang pun masih lebih mirip sungai kering. Ah tapi bukan masalah itu yang mau aku bahas sekarang.

Aku ingin menceritakan tentang seorang bapak yang luar biasa, seorang bapak yang memulai karirnya dari seorang guru SD di daerah pedalaman yang sekolahnya masih beralaskan tanah, tapi semangat dan visinya sudah sangat maju kedepan. Masih aku ingat dengan mesin tik nya bapak membuat artikel untuk dikirim ke majalah BKW / Bhineka Karya Winaya (majalah di lingkungan dinas pendidikan Jawa Barat) dengan honorarium Rp.15.000 untuk setiap artikel yang dimuat, dan dengan senang hati bapak akan hadir jika ditugaskan untuk menghadiri seminar dan pelatihan. Aku juga ingat dulu sepulang pelatihan pustakawan dari Bandung, bapak bawa 1 dus besar buku-buku untuk di simpan di Perpustakaan sekolah, tapi selagi rak buku disiapkan di sekolah, buku-buku itupun disimpan dirumah panggung kami dan bapak menyuruhku untuk membacanya satu per satu. Mungkin dari situlah awal aku suka membaca dan menulis walau hanya menulis curhatan seperti ini.

Bapak juga mengajarkan untuk selalu menghargai waktu orang lain, datanglah secepat mungkin jika kamu janjian dengan orang lain, kalau perlu 1 jam sebelum waktu yang disepakati. Dunia tidak akan melirik orang-orang pemalas,nak!

Dengan motor honda win nya Bapak juga yang rajin mendorong aku untuk mengikuti lomba-lomba seperti cerdas cermat murid teladan, lomba menulis, lomba mewarnai sampai ke tingkat kabupaten untuk memastikan anaknya tidak ketinggalan zaman dan tau bahwa dunia itu luas walau pada sorenya kami harus kembali ke desa dengan melewati hutan pinus dan tak jarang sambil kehujanan. Bapak juga adalah orang yang sangat open minded, dia tidak keberatan aku belajar bahasa Inggris dari lirik-lirik lagu boyband barat. Ketika teman bermainku di desa asyik dengan berenang disungai, aku lebih memilih mendengarkan backstreet boys di rumah dengan tape deck merk Asatron yang rasanya sangat keren pada waktu itu. Dan bapak ikut mendengarkan 🙂

Bapak adalah orang yang disiplin, aku akan di marahi jika ketahuan menunda-nunda waktu solat, atau malas mengaji. Bapak akan ngomel-ngomel kalau aku menyimpan barang yang telah digunakan tidak pada tempatnya lagi. Jika kami akan bepergian pada jam 7 pagi, bapak akan mulai bersiap-siap dari jam 4 subuh, memastikan barang-barang yang kami bawa tidak ada yang ketinggalan. Jam makan dan mandi juga sangat sangat harus tepat waktu. Waktu kecil dulu aku akan di geret ke kamar mandi dan diguyur jika keukeuh gak mau mandi sore.

“Kalau kamu sedang baca ayat pertama, mata udah harus ngeliat ke ayat berikutnya” itu kata-kata yang aku ingat ketika bapak mengajarkan membaca  AlQuran.

“Kalau orang sudah bisa mengetik di komputer, kamu udah harus bisa ngetik, ngegambar, dan ngeprint hasilnya” itu juga kata bapak ketika SMP aku mulai belajar komputer. Bukan tidak bersyukur, tapi manusia harus punya motivasi untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.

Ah rasanya akan sangat panjang jika aku ceritakan semua yang bapak ajarkan sejak aku kecil sampai sekarang aku dewasa dan menjadi seorang ibu. Hanya rasa syukur yang terus aku panjatkan, karena dengan segala didikannya aku bisa seperti sekarang. Dan semakin aku dewasa, semakin aku yakin bahwa aku harus mengajarkan hal yang sama pada anakku nanti.

Dan ya, dengan doa, kedisiplinan, etos kerja, loyalitas, dan kerja kerasnya, kini aku bisa berbangga hati melihat bapak bisa membuktikan bahwa tidak peduli kamu berada dimana sekarang, jika kamu menginginkan sesuatu, berusahalah! Guru SD dari desa tertinggal itu kini sedang mengemban amanah untuk mengurus sekitar 1200 SD di seluruh Kabupaten Sukabumi. Aku bangga bukan karena jabatannya yang mungkin ada banyak orang yang menginginkannya, tapi karena semua didikannya dulu bukan hanya nasehat, bukan hanya kata kata belaka, tapi bapak buktikan sendiri, bahwa memang dengan kebaikan berupa kerja keras dan kejujuran lah kebaikan lain yang mungin lebih besar akan datang menghampiri kita.

and its true what proverb said that A father is his daughter first love and first hero 🙂

IMG_0421

Bapak, a man with integrity

Secangkir kopi dan ulang tahun pertama

Ya ampun, rasanya baru kemarin ibu mules 2 hari 2 malem sebelum akhirnya kamu brojol nak 😀

Dan setahun pertama ini sungguhlah bagaikan roller coaster buat ibu dan ayah.

Kami yang tadinya cuma tau cara saling menyayangi satu sama lain, cara mengerti keinginan satu sama lain, cara menahan ego masing-masing, dan hal hal lain yang hanya antara ibu dan ayah. Lalu lahirlah kamu, lahir tanpa manual book dan kartu garansi apa-apa dan semuanya tidak pernah sama lagi. Prioritas kami semuanya tertuju padamu, pada bagaiamana caranya membuatmu tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya.

Syukurlah Allah kirim kamu dengan segala kemudahan, dari proses kehamilan, melahirkan, persiapan ini itu, rezeki, semuanya dimudahkan nak. Banyak sekali keajaiban yang kepikiran pun ibu gak pernah.

Sebulan pertama kehadiranmu adalah yang terberat buat ibu, karena tidak mudah beradaptasi dengan semua perubahan yang tetep berasa tiba-tiba *padahal udah persiapan dari sejak kamu dalam kandungan* ini. Dari mulai jam tidur, proses menyusui dan segala perintilannya, tangisanmu yang kadang sulit ditebak karena apa. Alhamdulillah ibu masih dikasih waras dan bisa lewati tanpa baby blues cuma cireumbay cireumbay aja beberapa kali.

p_20160229_091353

One day old 

Bulan kedua mulai terbiasa, pola tidurmu mulai mengikuti kami orang dewasa, frekuensi buang air besarmu sudah tidak sesering bulan pertama. Bulan demi bulan berlalu , drama demi drama, drama nyari pengasuh yang akan menjagamu selama ibu kerja, drama kamu gak mau minum asip lewat dot, drama kejar-kejaran stok asip sehingga ibu harus bolak-balik rumah kantor tiap jam istirahat, drama yang ngasuh tiba-tiba minta berhenti, drama asi ibu kadang banyak kadang sedikit.

Memasuki usia 6 bulan kamu mulai mengenal makanan lain selain asi, drama baru lagi, idealisme ibu yang ingin kamu makan MPASI sesuai dengan panduan WHO no gula garam under 1 year, no kecap manis, dan ini itu harus gigit jari nerima kenyataan bahwa gak setiap anak bisa nerima menu menu 4 bintang itu, yaudah ibu mulai melunak dan kompromi sama nenek yang menunya lebih kamu sukai dengan iming-iming kerupuk 😀

p_20160716_102357

Tapi diluar masalah kadang kamu suka lepeh lepeh mpasi buatan ibu, ibu tetap bersyukur, alhamdulillah kamu gak alergi ini itu kalo soal makanan, makan apa aja masuk, mengingat ada bayi yang makan pisang aja alergi, ibu sangat bersyukur karena kamu makan apa aja aman dan lancar jaya.

Kemudian kamu mulai tengkurap,,,merayap maju mundur,,merangkak,,berdiri,,sampai saat ibu ketik postingan ini kamu sudah bisa berjalan walau baru 3 sampai 5 langkah dan kadang masih belum seimbang,,sudah mulai bisa mengucap “mama”, “papa” ,”baba” “mamam” , “ituuh”, *tapi kenapa susah banget bilang ibu dan ayah ya nak?hahahaha* ibu terharu sekali.

Ibu dan ayah tau, perjalanan masih sangat panjang untuk kita, mungkin beberapa taun lagi kamu akan menjadi kakak, mungkin nanti kamu mulai bertanya tentang banyak hal, yang pasti ibu dan ayah belajar banyak sejak kamu hadir dalam kehidupan kami, dan ketahuilah nak, kelahiranmu adalah salah satu hal paling ajaib yang pernah ibu alami

Tumbuh dan berkembanglah dengan baik dan bahagia anakku, Muhammad Arfan Akira Hamizan 🙂

p_20170225_1915591

Lots of love

Ibu dan Ayah

Sukabumi 28 Februari 2017

Secangkir kopi yang kurang manis

Ah dalam hidup itu pro kontra akan selalu ada, ya kan?

Even when you are the ripest apple in town, there still somebody who hates apple.

Jadi, ngelakuin hal salah udah pasti dong di komen ini itu, eh ketika ngelakuin hal yang bener aja dan tanpa merugikan orang lain, komentar pro dan kontra itu pasti tetep ada juga.

Kenapa gue bahas ini? karena ceritanya gue lagi zebelllll ketika gue ingin merubah beberapa hal yang menurut gue ke arah lebih baik buat diri gue sendiri, adddddaaaaaaa aja komenan

“alaaaah paling juga kebawa-bawa musim”

“duh yakin tuh mau pake yg kaya begitu?”

Padahal gue gak koar-koar loh dan gak ngurusin juga orang lain mau kaya apa..dan gue rasa ni yah, kalo dia gak sefaham, ya monggo tapi gak usah spread negative vibes.

atau ketika gue posting foto gue jalan sama suami dan anak, ada juga yg komen “lah pergi kesitu aja segala di pamerin” hahahah kan lucu yah? gue pergi sama suami dan anak, pake duit sendiri, gak rugiin dia juga, tetep ajaaaaaaaaa. Tapi yaudah, gue sih terima aja sebagai konsekuensi atau resiko dari “memposting sesuatu ke medsos” yang berarti kudu siap dikomenin orang mau enak atau gak enak.

Tapiiii kaaaan..tetep aja ya dalam hati sanubari yang paling dalam gue bertanya, ini orang kok negatif benerrr auranya? apa apa buat dia kok dibikin sensi ya?

Gue menguatkan hati untuk gak sebel dan mending tabayyun dulu mungkin orang itu kurang asupan gizi piknik atau butuh asupan coklat yang banyak biar hormon endorphin nya aktif. Tapiiii lagi-lagi hati gue belum se-legowo itu kalo ada yg negatif negatif hinggap ditelinga. Okelah mari jadikan bahan renungan saja, bahwa gue harus belajar untuk gak rese sama kehidupan orang lain apalagi yang gak ngerugiin hidup gue, dan semoga yg negatif-negatif ini sama Allah dikasih hidup yang bahagia biar ga punya waktu buat urusin idup orang lain. Ya Allah berikan kesabaran seluas samudra. Amiiiiin 

download

Secangkir kopi di Villa Kota Bunga

Weekend kemarin saya dan beberapa orang sahabat (tepatnya 2 pasang suami isteri + 2 anak, dan 2 orang bujang yg masih pilih pilih jodoh hahaha) menghabiskan waktu di Puncak Cianjur, sebenernya rencana ini udah lama banget dari bulan-bulan kemarin, tapi yaaah karena mencocokan jadwal beberapa keluarga itu susahnya minta ampun jadi baru terealisasikan 4 – 5 Februari kemarin.

Dengan segala drama akhirnya berangkatlah kita hari Sabtu jam 10 dari Sukabumi menuju Puncak, tujuan pertama ke Villa Kota Bunga karena kita akan bermalam disana, alhamdulillah jalanan lancar walaupun diiringi hujan sepanjang jalan

Drama pertama, H-1 yg punya villa tiba-tiba ngabarin bahwa villa yg kita booking gabisa ditempatin krn yg sewa sebelumnya extend sewa ,hih ini bikin gedeg banget sih apalagi penggantinya modelnya beda, walau jumlah kamar sama. Tapi karena kita dapet harga khusus jadi yaudah lah terima aja walau dalam hati masih gondok

puncak20

ini villa yg kita booking awalnya

puncak19

ini villa pengganti, fasilitas sama tp dalemnya tembok biasa aja

Sampailah kita di villa biru ala ala rumah di sinetron elang Indosiar ini jam 1 siang, villa ini kisaran sewanya 1,3jutaan dan kita dapet harga khusus yg lumayan jadi yasudah disyukuri saja, pas buka pintu ruang tamu ada sofa dan tv (tv nya pake indihome)  , dapur lengkap dengan peralatan masak + kulkas + water dispenser, ada 2 kamar mandi (yg dilengkapi water heater dan mesin cuci) dan 1 kamar tidur, naik ke atas ada 2 kamar tidur dan balkon

Setelah rapi rapi barang, kita makan siang (bekel nasi timbel dan lauk pauk dari rumah) terus bayi bayi pada bobo siang dulu di ikuti emak bapaknya selonjoran. Sorenya sehbis ashar kita jalan-jalan ke Nicole’s Kitcghen dan FO Kampung Brasco buat nyemil-nyemil cantik dan tentunya foto-foto

puncak18

3 pasutri dan 2 bujang

puncak17

Ngemil cantik dan ngopi ngopi

puncak16

Bocah lanang gak bisa diem

Nicole’s kitchen ini udah pernah saya bahas di postingan yg dulu, tempatnya enak buat santai dan bagus buat foto-foto, instagramable gitu lah kata anak gaul mahTapiiiii untuk rasa hidangannya ummmm sorry to say sebagai orang Sukabumi lebih enak makanan di D’Green sih dengan kisaran harga hampir sama dari mulai 50rb s/d 200rb Selesai dari Nicole’s lanjut belanja di Brasco, FO ini lumayan lengkap tapi koleksinya kadang lagi pada bagus kadang nggak, dulu pas kesini koleksinya banyak atasan-atasan merk forever 21, tapi pas kemarin lagi pada ga bagus, cuma lagi ada promo sweater rajut aja .

Jam 7 malem bapak-bapak udah pada ribut pengen balik ke villa karena mau nonton Liga Inggris, apalagi ada 2 big match Arsenal vs Chelsea dan Liverpool vs Hull, yaudah langsung kita cus balik ke villaSuami saya sama A Fajar (suaminya Inggit) langsung fokus nonton bola, sedangkan saya, Inggit, dan Dea sibuk ngelonin bayi-bayi, dan 2 bujangan + Heri sibuk jadi Chef masak liwetJam 10 liwet dan lauk pauknya mateng kemudian makan malam atau entahlah makan apa , yang pasti kenikmatan yang hakiki untu lidah kami sebagai orang sunda ya ketika makan bareng dengan menu liwet ini, bukan makan pasta di Nicoles tadi hahahahahaha 😀

Besok paginya, 2 bujang kembali menjadi chef dan bikin nasi goreng buat sarapan, kemudian kita siap-siap mau main ke Little Venice dan Fantasi World

puncak6

Sebelum berangkat di halaman villa

puncak7

Me and my 11months baby

puncak5

Belakang dari kiri : Mimi , suami, a Fajar, kaka Dilla | Depan dari kiri : Heri , Dea, baby Z, Babang, Saya, cikimil, Inggit

Karena males bolak balik lagi, jadi jam 9nan kita berangkat main sekaligus check out yang seharusnya jam 1, langsung menuju Little Venice mau naik gondola ala ala hihihiNyampe sana bayar tiket masuk 35rb ini tiket terusan ke fantasi world juga

puncak12

Ini danaunya

Karena yg khas dari sini adalah naik perahunya yaudah kita naik dengan harga 20rb per orang, kebetulan kita pagi-pagi kesininya jadi belum ngantri, karena seudah tour gondolanya selesai ternyata antrian lumayan juga.

puncak8

kita lagi naik gondola keliling area little venice alhamdulillah cikimil anteng selama naik perahu

Cuaca mulai panas, setelah keliling fot0-foto kemudian kita ke arena fantasi, sedikit cerita dulu tahun 2007 saya pernah main kesini dan rame ada pertunjukan teater segala, tapi kemarin kesini sepiii banget dan kaya kurang maintenance gitu tempatnya jadi kita cuma foto-foto aja

puncak2

Arena fantasi yang hmmm sepi

Jam 12an kita jalan pulang, dan  makan siang dulu di sate maranggi Sari Asih. . Jadi, yang menarik dari liburan kali ini adalah kumpul-kumpul dan ngobrolnya,  ngobrolin kerjaan masing-masing, keluarga masing-masing, dan kalo udah ngumpul gini suka berasa masih pada bocah aja kaya jaman kuliah dan tinggal di kosanSemoga selalu sehat dan dimudahkan rezekinya yaa sahabat-sahabatku yang udah berasa sodara sendiri, biar kita bisa liburan ke banyak tempat bareng-bareng . Amiiiin ya robbalalamiiin

puncak1

Sekian liburan kali ini, see you on another trip